Catatan : Sebuah perjalanan yang membawa pengalaman
Melihat banyak anak perempuan yang memilih untuk menikah muda, membuat saya bertanya-tanya, mengapa mereka bisa seyakin itu untuk menikah? apakah karena cinta atau dipaksa oleh keadaan?
Hingga terlintas dikepala saya sebuah pertanyaan, apakah sebagai perempuan mereka tidak memiliki mimpi dan cita-cita, sehingga memilih untuk menikah muda?
Kemudian saya tersadarkan, bahwa tidak semua perempuan beruntung dalam beberapa hal.
terkadang, mereka yang memilih menikah muda, tidak didasari oleh keinginan mereka sendiri. ada campur tangan orang disekitar mereka, paksaan orangtua misalnya. atau kondisi ekonomi yang tidak mendukung mereka untuk bisa mengakses pendidikan dengan bebas.
Lingkungan dan pendidikan menjadi salah satu kunci penting dalam pembentukan karakter perempuan. Dimulai dari pembentukan pola fikir, karakter hingga prinsip perempuan semuanya bergantung dari lingkungan disekitarnya dan pendidikan ia dapatkan. Dan penguatan dari lingkungan dan pendidikan adalah role model, idola, atau sosok panutan. Hal ini penting untuk dihadirkan dalam proses pencarian jati diri seorang perempuan.
Bukan tanpa alasan saya mempunyai pandangan demikian, ini berdasarkan pengalaman saya pribadi.
Saya lahir dikampung yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Budaya patriarki masih sangat kental di masyarakatnya. Hal ini ditandai dengan masyarakat yang masih mengkotak-kotakkan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan sejak berusia sembilan tahunan, ia diharuskan untuk belajar mengerjakan pekerjaan domestik seperti mencuci baju dan menyapu lantai. Sedangkan anak laki-laki diperlakukan seperti raja, mereka bebas bermain apa saja. Tidak ada yang salah apabila mengajarkan anak untuk bisa belajar mandiri dan mengenalkan mereka pekerjaan domestik rumah tangga. Asalkan tidak menekankan kepada anak perempuan bahwa ini tugas mereka, kewajiban mereka dimasa depan sebagai seorang perempuan.
Karena sejak kecil, anak perempuan lebih sering mendapat penguatan bahwa ; tugas mereka hanyalah seputar sumur, kasur dan dapur. Sehingga membentuk pola fikir bahwa untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, untuk apa mereka punya mimpi dan ambisi, untuk apa ngoyo bekerja dan meniti karier setinggi mungkin, toh pada akhirnya sebagai perempuan tetap kembali ke dapur. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Karena terbiasa dengan budaya yang patriarki, memiliki mimpi dan cita-cita setinggi langit bagi anak perempuan di kampung seperti saya adalah hal yang sia-sia.
Saat jenjang sekolah SMA. Orang tua saya mengirimkan saya ke kota Tasikmalaya untuk melanjutkan sekolah. Dengan memasukkan saya pada sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren. Ilmu agama menjadi tujuan utama orangtua disini sebagai pendidikan utama bagi anak didaerah saya. Tidak apa, jika tidak mampu sekolah hingga perguruan tinggi asalkan ngaji di pesantren sudah dianggap cukup oleh warga disini.
Hal ini melatarbelakangi para orangtua untuk memasukkan anak-anaknya pada sebuah lembaga pendidikan yang mengkombinasikan antara pendidikan formal dengan pesantren di dalamnya.
Dari sanalah saya mendapatkan sebuah pencerahan. Saya berkenalan dengan organisasi IPPNU. Salasatu Badan Otonom dibawah naungan NU. yang mewadahi para pelajar putri dalam berorganisasi. Tak hanya sekedar belajar berorganisasi, IPPNU hadir untuk mewadahi pelajar perempuan untuk bisa mengaktualisasikan diri. Mengasah kemampuan dalam berbagai bidang. Melatih perempuan untuk bisa saling terkoneksi dan berkomunikasi dengan baik.
Tak hanya itu, melalui beberapa acara yang secara khusus menampilkan sosok-sosok perempuan membuka cakrawala baru untuk diri saya sendiri. Salasatunya adalah Bunda Affi Endah Navila, Ketua Fatayat NU kota Tasikmalaya yang juga menjadi kepala sekolah di salasatu SMPNegeri disana. Saya juga berkesempatan bisa melihat dan mendengarkan nasihat yang disampaikan di hadapan para ibu muslimat secara langsung oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa yang saat itu menjadi wakil gubernur Jawa Timur sekaligus ketua umum ibu-ibu Muslimat. Juga ibu Nyai tempat saya mondok, Ibu Hj neni Zakiah menjadi salasatu inspirasi. Perannya sebagai seorang istri Kyai juga menjadi sosok ibu yang mengayomi para santri.
Dari beberapa orang yang saya temui ketika menimba ilmu saat itu, saya mulai berpikir bahwa tugas perempuan tidak hanya berkutat sebatas sumur kasur dan dapur. Ada beberapa ruang publik yang bisa dan harus di idi oleh perempuan. Menjadi perempuan tidak seharusnya membatasi mimpi-mimpi seorang anak manusia. Laki-laki dan perempuan punya hak dan peran yang sama dan setara.
Kongres Ulama Perempuan menjadi pemantik semangat bagi para perempuan untuk berkhidmat kepada umat. Jika selama ini ulama kerap kali dikaitkan dengan laki-laki, kini perempuan yang mau berjuang untuk memberikan kesadaran dan pemahaman baik kepada perempuan maupun laki-laki patut digelari ulama karena kiprahnya. Secara khusus disematkan gelar Ulama Perempuan padanya.
Ulama perempuan punya peran yang sama besar, dua kali lebih efektif bagi anak perempuan dalam memberi inspirasi. Mengapa?
Karena kita sama-sama perempuan.
Saat masih SD saat melihat satu sosok laki-laki yang menginspirasi. Maka, akan secara otomatis terpatri bahwa "Dia bisa begitu, karena ia laki-laki."
Laki-laki selalu identik dengan pendidikan tinggi, bebaa bergaul sana-sini, bisa dengan mudah membangun koneksi. Tanpa harus takut terkena stigmatisasi oleh masyarakat, karena ia seorang laki-laki.
Segala kemudahan dalam hal aktualisasi diri melekat dalam diri laki-laki. Berbeda dengan perempuan.


Komentar
Posting Komentar