Kisah Penantian (Cerpen)


"Happy Anniversarri Bubu" Ucap lelaki yang sudah menemaniku dua puluh tahun ini.


"Terimakasih Baba" Jawabku disertai ciuman yang kuberikan pada pipinya.


Namanya Bayu, Lelaki yang meminangku sepuluh tahun yang lalu. Setelah masa pacaran sepuluh tahun yang kami lalui. Total dua puluh tahun kami berkomitmen satu sama lain. 


Saat itu usiaku dua puluh enam tahun, Baru lulus S2 dan kami seumuran. Bayu baru menapaki karir sebagai pegawai di kantor pemerintah daerah. Karna merasa cukup usia akhirnya kami memutuskan untuk menikah.


Katanya menikah dengan yang berusia seumuran rentan akan konflik. Namun kami tidak merasakannya. Selalu bersama sejak kelas satu SMA membuat kami saling memahami satu sama lain. Sudah saling mengerti dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Ditambah kami menikah saat sama sama sudah dewasa, membuat kami mampu menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin.


Dan hari ini kami merayakan ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh. Walaupun belum ada anak diantara kita, tapi tidak membuat euforia kebahagiaan ini berkurang sedikitpun.


"Semoga kita selalu bersama" Bisiknya sebelum meniup lilin bersama ku.


"Aamiin"


🌸🌸🌸


"Hai Sita," Sapa Santi salah satu teman SMA Ku dan Bayu.


"Haiii" Aku segera menghampirinya, dan cipika cipiki khas perempuan.


"Apa kabar bu Dosen?" Tanyanya, Profesi ku saat ini menjadi Dosen di salah satu Universitas Negeri yang ada dikota ku.


"Hehe, Baik. Kamu gimana?" 


"Aku lagi pusing tahu, Anakku yang nomor lima baru berusia sembilan bulan, dan kamu tahu? Aku kebobolan! Aku hamil lagi. Pusing kepala ku. Mana biaya pendidikan tiap tahun makin naik. Pekerjaan suami ku gak seberapa lagi. Ah pokonya aku lagi pusing" Cerocosnya tanpa jeda, khas Santi sejak zaman SMA.


Aku hanya tersenyum iri mendengar ceritanya, Santi seusia dengan ku tapi ia sudah punya lima menuju enam anak diusianya yang ke tiga enam. Sedangkan aku, untuk mendapat satu pun belum tuhan percayakan.


"Sabar ya," Hanya itu yang bisa ku katakan. 


Saat ini Aku sedang berada diacara Reuni SMA, Sekaligus buka bersama. Agenda tiap tahun yang angkatan kami adakan. Bayu sedang mengobrol dengan teman-temanya dibagian lain. Jadi disinilah aku duduk disebelah Santi yang kerepotan dengan kedua Anaknya yang masih balita.


"Kamu udah isi belum?" Pertanyaan yang sering temanku lontarkan saat bertemu. Karna hampir tiap tahun aku dan Bayu hadir tanpa membawa momongan. Dan kini pertanyaan itu dilemparkan oleh Santi.


"Do'akan saja ya San," Jawabku.


"Makanya bikinnya yang sering dan teratur dong Sit, Kamu jangan sibuk ngurusin mahasiswa mulu makanya. Itu si Bayu juga kok kayaknya makin sibuk kampanye sana sini, mau nyalon DPR lagi ya dia tahun ini?"


"Iya. Minta do'a dan dukungan ya. Semoga cita-cita Bayu terlakasana." Aku hanya menjawab pertanyaan mengenai Bayu, karna jujur menjawab perihal anak membuat ku merasa sesak. Aku bukan tidak berusaha dengan Bayu, kami ikhtiar semaksimal mungkin. Berbagai dokter aku datangi, Bulan madu rutin kami jalani entah hanya menginap dihotel tiap akhir bulan atau bahkan jalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri sudah kami jalani. Dan kesibukan seringkali menjadi anggapan orang luar mengapa Kami belum punya anak, Padahal kami tidak begitu sibuk. Profesiku sebagai Dosen tidak menghalangi mobilitasku sebagai istri. Dan Profesi Bayu sebagai anggota Dewan tidak menjadi hambatan dalam pernikahan. Hanya mungkin Tuhan belum memberikan kami kepercayaan.


🌸🌸🌸


"Bayu, aku kok makin males ya kalau ditanyain masalah anak. Dikiranya kita terlalu sibuk sampai belum punya anak. Padahalkan gak gitu." Cerita ku pada Bayu, aku memang memanggilnya hanya dengan nama tanpa embel-embel "Mas" didepannya. Kurang sopan memang, tapi Dia juga gak keberatan dengan masalah panggilan. Asalkan saat didepan umum, Bayu mewajibkan untuk dipanggil Mas.


"Yaudah sih, biasanya juga kamu gak pernah kepikiran apa kata orang kan? Toh pernikahan kita yang jalani. Aku bahagia kok hidup berdua sama kamu." Jawabnya.


"Tapikan usiaku udah tiga enam, makin tua makin sulit pula buat punya anak. Masa kita hidup gini-gini aja sih?" Aku kesal mendengar Bayu yang cenderung biasa aja. Seolah dia memang benar-benar gak masalah kalau seandainya kami ditakdirkan untuk tidak memiliki anak.


"Ya terus harus gimana? Anak itu kan titipan, rezeki yang tuhan kasih. Kalau belum dikasih ya kita bisa apa? Usaha kita udah, Berdo'a juga tiap hari. Masalah hasil ya kita serahkan kembali kepada Nya." Bayu menyimpan hape yang sedari tadi ia pegang, kemudian ia memegang bahu ku.


"Ingat ya sit. Kalau kamu takut jika gak punya anak aku bakal nikah lagi, kamu gak usah takut. Kita udah biasa kok cuma berdua, dan kita baik-baik aja sejauh ini. Aku juga gak ada tuh fikiran buat nikah lagi, ngapain coba? Toh jikalau aku nikah lagi pun belum tentu dapat anak. Kalau memang kamu ngotot mau punya anak, kita bisa adopsi. Banyak lho diluar sana anak-anak yang butuh kasih sayang dari orang seperti kita. Pernikahan itu tidak melulu masalah anak, Aku harap kamu paham apa yang aku maksud. Dan aku tahu kamu bukan wanita yang berfikiran sempit, dimana wanita dianggap tidak sempurna hanya karna tidak melahirkan dan menyusui." 


Aku merasa terharu mendengar kata-kata yang Bayu ucapkan. Ah betapa bodohnya aku jika masih merasa sempit hati hanya karna belum memiliki keturunan.


"Uuuuu sosweet nya suamikuu" Aku membalas nasihat yang Bayu berikan dengan pelukan.


Nikmat mana lagi yang akan aku dustakan? Suami pengertian, kehidupan mapan, dan rumah tangga yang diberikan ketenangan. Terkutuklah aku yang beberapa saat lalu merasa tidak bersyukur hanya karna belum mempunyai keturunan.


🌸🌸🌸


Hari ini aku menemani Bayu kampanye di daerah yang cukup terisolir. Katanya disini banyak anak yang putus sekolah. Tidak heran, mengingat akses yang harus kami lalui untuk menjangkau daerah ini memang cukup terjal. Ditambah hujan yang mengguyur membuat medan jalan semakin licin, membuat aku dan Bayu turun dari mobil yang kesulitan untuk melalui sebuah kubangan.


"Kamu ini lho gimana sih Bay, lima tahun jadi anggota dewan kok ini jalan masih gini sih?" Protesku pada Bayu.


"Lho, periode kemarin kan aku ditingkat kabupaten. Ya jelas gak kejangkau lah daerah ini. Makanya sekarang aku kesini mau meninjau sekaligus minta dukungan sama warga sini." 


Oh iya ya, Periode kemarin Bayu masih jadi DPRD kabupaten/kota. Baru periode ini ia maju di DPRD Provinsi. Ngomong-ngomong banyak banget temen temen sekolah kami yang sering kasak-kusuk katanya hati-hati nanti korupsi lah, poligami lah kaya anggota DPRRI yang viral itu lho. Hiiih amit-amit, pokoknya aku selalu memantau setiap gerak gerik dan keputusan yang Bayu lakukan. Jadi ku jamin Bayu itu bersih dari korupsi.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan tiga jam menggunakan mobil ditambah satu jam jalan kaki, kami tiba disebuah kecamatan. Warga disana menyambut dengan ramah kedatangan kami. Tim sukses yang kami bawa segera mendirikan tenda untuk pemeriksaan kesehatan warga yang ada disini. Bayu segera mendekati bapak-bapak yang sudah berkumpul. Dan aku segera mendekati anak-anak yang ada disini. Kebetulan tadi aku membawa beberapa buku latihan membaca dan mewarnai untuk ku bagikan pada mereka.


"Halo adek adek." Sapa ku pada sekumpulan anak-anak yang berkerumun.


Mereka menatap malu-malu. Ah polos nya mereka, Aku selalu suka dengan anak anak desa seperti mereka. Walaupun sedikit terpinggirkan, tapi mereka belum terkontaminasi segala permainan di gadget yang merusak. Mereka masih asli. Terlihat dari permainan yang meraka mainkan, Hanya bermodalkan genteng yang disusun meningi mereka asyik tertawa dan berkejaran.


Akhirnya aku mengumpulkan mereka membentuk sebuah lingkaran, lalu ku tanya adakah yang bisa membaca? Ternyata ada. Seorang anak yang ku taksir berusia sembilan tahun. Namanya Salsa.

Akhirnya kuputuskan untuk mengajarkam mereka membaca dan membagikan seluruh buku yang ku bawa untuk mereka gunakan.


"Benar kamu Bay, ternyata banyak anak yang lebih membutuhkan kita"


Akhirnya kami memutuskan untuk menginap disini. Karna tidak memungkinkan untuk pulang dalam keadaan hari yang sudah gelap gulita.


Aku dan Bayu menginap dirumah salah satu warga yang ternyata adalah orangtua dari Salsa. Dan Tim sukses yang ikut, menginap dirumah warga lain. 

Akhirnya aku mendapat informasi jika Salsa anak tertua dari lima bersaudara. Kulihat ia anak yang cerdas, hanya saja keterbatasan ekonomi keluarga dan infrastruktur belum memadai membuatnya putus sekolah. Sungguh ironis memang.


"Gimana tadi anak-anak?" Tanya Bayu, saat kami berada diluar rumah setelah ikut makan malam dengan lauk yang sangat sederhana.


"Menggemaskan, tapi aku sedih liat mereka belum bisa baca tulis. Pas aku ajarkan, mereka kelihatan sangat bahagia. Apalagi Salsa, dia satu satunya anak diantara teman sebaya nya yang sudah bisa membaca. Tapi kata ibunya tadi dia putus sekolah. Padahal Salsa pinter  lho." Ceritaku.


"Begitulah, makanya aku  memutuskan untuk konsen kampanye di pelosok. Selain mendulang suara, juga untuk meninjau kira-kira apa yang harus aku lakukan demi kemajuan daerah ini."


"Pokoknya kalau nanti kamu Jadi DPR. Dan daerah ini masih gini-gini aja, Awas kamu!" Ancamku.


"Siap ibu negara!"


🌸🌸🌸


Akhirnya masa kampanye dan pemilihan telah usai. Bayu lolos melenggang menduduki kursi anggota dewan tingkat provinsi. Salah satu lumbung suara terbanyak ia dapat dari daerah yang kami kunjungi waktu itu, Tempat aku bertemu Salsa.


Dan setelah kunjungan waktu itu, aku rutin berkunjung kesana bersama mahasiswa ku untuk mengajarkan anak-anak disana membaca dan menulis. Aku juga punya misi untuk mengentaskan buta huruf bagi anak-anak disana. Dan semua itu sudah menunjukkan progress yang signifikan. Karna pada dasarnya daerah itu belum terkontaminasi modernisasi sehingga anak-anaknya masih giat untuk belajar. 


Seperti sekarang, ini adalah kunjungan ku yang ke sepuluh kalinya. Biasanya aku datang paling tidak seminggu sekali dengan membawa lima orang mahasiswa yang mengikrarkan diri menjadi relawan terap sejak pertama kali mereka ku bawa kesini. Tiap kesini aku selalu menginap dirumah keluarga Salsa. Sedikit banyak aku sudah paham bagaimana karakter Salsa. Dan ada sebersit keinginan untuk membawanya tinggal bersama ku. Tapi aku harus berkomunikasi terlebih dahulu denga Bayu sebelum mengambil keputusan.


"Ibu ini gimana ngerjain nya?" Salsa menanyakan salah satu soal yang ada di buku latihan soal yang ku berikan. 


"Coba liat dulu materi sebelumnya, baca dulu, pahami. Nah ini kamu rumusnya salah. Harusnya ini dikali ini lalu baru dibagi." Terangku padanya. Salsa anak yang cerdas ia mudah menangkap apa yang ku ajarkan. Dan ia punya minat yang tinggi pada matematika. Rasanya sayang jika anak seperti Salsa harus terhenti langkahnya hanya karna keterbatasan.


"Sa, kamu mau gak kalo ikut sama ibu?" Tanya ku iseng.


"Ikut kemana? Kerumah ibu sama Bapak?" 


"Iya, nanti kamu sekolah disana. Tinggal sama ibu dan bapak." Agak gegabah memang, menawarkan sesuatu yang padahal aku sendiri belum pasti di izinkan oleh Bayu dan orangtua Salsa.


"Ibu tanya Mamah sama Bapak aja. Mereka yang lebih tahu baiknya gimana. Nanti Salsa nurut aja apa kata Mamah sama Bapak."


Akhirnya aku menghubungi Bayu terlebih dahulu, menyampaikan maksud dan keinginanku. Tanggapan Bayu, sebaiknya aku pulang dulu. Lebih enak dikomunikasikan secara langsung katanya.


🌸🌸🌸


"Kamu yakin?" Tanya Bayu. Saat aku selesai menceritakan maksudku. Aku juga sudah bicara dengan kedua orangtua Salsa. Mereka menangis mendengar permintaanku. Tapi mereka lega, setelah selama ini merasa bersalah karna tidak bisa memberikan fasilitas pendidikan dan kasih sayang yang layak untuk Salsa. Mereka mempersilahkan aku jika ingin membawa Salsa. Bahkan jika diadopsi secara legal pun mereka menyetujui. Apalagi Salsa belum memiliki akte kelahiran dan kedua orangtuanya menikah secara siri.


"Aku yakin Bay, Aku ingin merawat Salsa. Menjadikan ia bagian dari hidup kita."


"Yasudah, jika kamu udah yakin. Tapi ingat lho! Jika suatu saat kita punya anak, kamu jangan sampai membeda-bedakan Salsa. Dan Salsa akan tetap jadi anak pertama kita. Kamu sanggup?" Tanya Bayu sekali lagi.


"Insyaallah aku sanggup." Jawabku penuh keyakinan. Aku mendapat kayakinan penuh setelah melakukan sholat istikharah dan berkonsultasi dengan salah satu dosen psikolog ditempatku mengajar. 


Akhirnya tiga bulan setelah melewati beberapa kali sidang dipengadilan, Salsa resmi "Sah" Menjadi anak pertama dari Bayu Bagaskara dan Sita Anindita.  


Tak terkira lega yang ku terima, namun ada tanggung jawab penuh sebagai orang tua yang harus Aku dan Bayu jalankan. Semoga saja kami bisa menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.


Tetap semangat mama-ibu-bunda yang ada di Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

On Your Wedding Day-FILM REVIEW

Sepiring Berdua (Cerpen)

Review-Drakor-Hi-Bye-Mama